Langsung ke konten utama

Alpa Alfa - Part 2

Pertanyaan horor apa yang pernah disodorkan pada kalian? Kalau aku..

"Gimana skripsi lu Fa?" tanya Huda, temen kuliah sejak pertama kali OSPEK.

"Elah, lu malah bahas skripsi. Tersinggung nih gwe," jawabku sambil membuka aplikasi Instagram. Kemudian aku ketik di kolom pencarian, @anasya_. Iya, akun si Naa, sepupu Humairah yang aku temuin dua hari yang lalu. Masa' iya dia satu prodi sama aku. Kenapa selama ini aku ga ikut kegiatan apapun di prodiku si.. tapi, hah. Kenapa aku baru kenal dia kemarin, coba. Eh bentar. Di bio akunnya emang ga ada sih embel-embel kalau dia mahasiswa ilkom kek aku, di postingannya juga ga ada foto yang menandakan kalau dia anak ilkom. Tapi...

"Huda!" Teriakku.

"Paan sih lu, tadi aku tanya kamu mau ikut muncak eh diem aja, mantengin tu hape. Eh giliran aku diem lu malah teriak manggil nama gwe," ocehnya.

"Lu ngapain ngikutin akunnya si Naa?!" Tanyaku setelah aku melihat di bawah bio akun @anasya_ tadi tertulis diikuti oleh Muhammad Huda dan Zahra Humairah. 

"Paan si!" Dia langsung menyerobot hapeku.

"Ahahahahaha.. kenapa? Lu suka dia?"

"Gwe cuma tanya lu kenapa ngikutin dia, cuma itu. Kenapa malah lu mikir kalau gwe suka sama dia."

"Dia adek kelas gwe waktu di SMA. Waktu gwe kelas tiga dia baru masuk. Dia emang famous sih di sekolah, gara-gara penampilannya yang cukup beda dari siswi kebayakan di sekolah gwe trus dia juga yang berhasil menghidupkan kembali rohis di sekolah gwe. Dia juga cukup berprestasi. Baru setengah semester masuk kelas satu aja dia bisa lolos provinsi lomba MTQ.."

"Gila juga dia.. jadi lu ngikutin igenya karena nge-fans sama dia."

"Nope. Dia emang sempurna dilihatnya beda sama gwe. Gwe ngikutin dia ya siapa tau di setiap postingannya ada satu kata atau kalimat yang membuatku lebih baik," jelasnya.

"Waaah. Emang gila. Lu terlihat beda pas njelasin siapa dia. Lu keknya suka deh sama dia."

"Plis deh ya Fa. Gwe udah punya cewe. Gwe cuma pengen jadi yang lebih pener aja kok. Ga lebih. Lagian dia mana mau sama gwe. Temen gwe yang alimnya bener bener alim, pinter ya bener bener pinter, gantengnya bener bener ganteng, dia aja kagak mau. Apalagi sama gwe. Hahahaha."

"Alasannya apa dia kok ga mau?"

"Mana tau gwe! Kenapa sih lu. Lu mau ngerjar dia? Ahahahaha ga usah mimpi deh."

"Heh gini-gini gwe juga lulusan pesantren. Pernah belajar ngaji."

"Seriusan lu lulusan pesantren? Kok gwe baru tau?"

"Serius gwe. Ya emang sih kalau diliat liat di diri gwe ga ada jiwa-jiwa pesantrennya. Tapi gwe pernah juara lomba pidato bahasa Arab kok.."

"Tingkat apa?"

"Tingkat se pesantren gwe sih. Hahahaha."

"Astagaa..."

"Misal nih ya Da. Misal aja nih. Kalau aku berhasil macarin dia lu mau apa?"

"Ahahahahaha.. bentar bentar, mau ngakak dulu."

Aku melengos. Tunggu aja ya Da.. tunggu aja deh.

"Lu tu bumi, dia langit. Kalau lu mau dia berarti lu siap dong sentuh langit itu. Emang si rada ngehalu. Tapi kalau emang bener bisa lu nggandeng tu langit aku siap deh beliin lu iPhone keluaran terbaru."

"Seriusan lu?"

"Serius lah.."

"Nah ini baru Huda yang gwe kenal."

"Eh lu mau rokok ga?"

"Astaghfirullaah akhii, ini masih di lingkungan kampus."

"Mang kenape? Kalau ga mau ya udah," balasnya sambil beranjak entah kemana. Aku biarin saja dia pergi. Aku masih konsentrasi di akun si @anasya_ tadi. Kenapa namanya singkat banget si. Ah bodo amat. Langsung aja aku tekan tulisan putih 'follow' di kotak biru kecil itu. Aku siap kok menggandeng langit.

---

"Alfa, skripsinya sampe mana?"
Yaa, Rabb. Ini laporan KKN belum selesai ya, kenapa pada nanyain skripsi sih. Nanti Alfa lanjutin kok kalau udah waktunya. Tkampken

"Iya, Ummii."

"Ini teh nya," kata Ummii sambil meletakkan teh di samping laptopku. Aku pura-pura fokus pada lembar kerja di Microsoft word yang masih bertuliskan BAB I. Kenapa ya dari kemarin ga nambah angka satunya. Aku kira setelah aku tinggal tidur angka  satu romawi itu bakal tumbuh dan berkembang gitu, yaa jadi dua atau tiga gitu. Emang lu pikir ini kembang ape Fa?!

"Terima kasih Ummii." Aku menatap Ummii sambil tersenyum. Lebih tepatnya mencoba tersenyum walau sedang berpura-pura fokus setelah meninggalkan game tadi.

"Sama-sama.." 

Yaa Allaah, ampuni Alfa. Aku ga bermaksud bohongin Ummii, tapi..

"Alfa kan habis ini lulus, rencananya mau ngapain Fa?"

Etdah. Aku baru KKN, laporan KKN aja belum aku sentuh lagi. Ini pula angka romawi satu juga ga nambah nambah. Eh, sekarang ditanya habis lulus mau ngapain. Aku memegang kepalaku, takut tiba-tiba jatuh gitu. Kan ga keren kepala tiba-tiba jatuh di depan Ummii lagi.

"Belum tau, Ummii, hehe." Tambahin nyengir sedikit biar terlihat santai.

"Kalau kata Abi tadi, kalau bisa lanjut S2 dulu. Baru nikah. Tapi kalau mau seperti abangmu nikah dulu baru S2 juga ga papa kok."

Yaa Rabbii.. pengen balik TK lagi deh.

"Hehe, belum tau Ummii. Alfa belum kepikiran sih mau lanjut S2. Belum kepikiran nikah juga."

"Ya udah ga papa. Sekarang mikir skripsi aja dulu."

Aku cuma tersenyum. Otakku terbuat dari apa sih? Woi lu tau disuruh mikir, tapi kenapa unconnect mulu sih. Astagaa Alfa. Banyak-banyak istighfar lu.

"Terima kasih ya Mii.."

"Ya udah Ummii tinggal dulu ya, kalau udah capek istirahat dulu. Jangan dipaksain." 

"Iya, Ummii." 

Setelah Ummii beranjak pergi dari kamarku, aku pun kembali menghadap layar laptop. Tadinya aku pengen balik ke game yang aku tinggalin las Ummii masuk. Tapi, melihat ketulusan Ummii membuat rencanaku goyah. Kenapa sih Ummii itu baik banget. Jadi ga tega kalau mau malas malasan.

Melihat Ummii seperti ini, aku kembali teringat Abang Umar. Iya, aku anak kedua dari dua bersaudara. Abangku ya Bang Umar. Kalau dibandingkan denganku, Bang Umar lebih penurut dan lebih jenius ketimbang aku, adeknya. 

Bang Umar bahkan pernah tembus nasional OSN bidang Fisika. Dia juga berhasil menyelesaikan Tahfidzul Qur'an pas di Aliyah. Benar-benar berbeda denganku. Jangankan tembus nasional OSN, nilai ilmu sains ku rendah. Aku hanya pernah menjuarai lomba pidato bahasa Arab. Itupun hanya tingkat pesantren. Apalagi Tahfidz. Astaghfirullaah. Aku sekarang udah kehilangan berapa juz ya?

Bang Umar juga berhasil lulus cumlaude di teknik lingkungan dan sekarang dia masih melanjutkan S2 setelah dia nikah dengan Kak Sarah. Kak Sarah juga aku akui sangat uwow. Kak Sarah adalah dokter gigi di kota sebelah. Emang gila sih hidup Bang Umar. Udah Sholeh, pinter, nikah sama perempuan Sholehah dan pinter lagi. Aku ga bisa bayangin betapa pinter ya anak mereka besok.

Dengan semua pencapaian Bang Umar, orang tuaku sangat bangga dengan Bang Umar. Khususnya Ummii. Aku juga bangga kok dengan Bang Umar dan jugaa.. orang tuaku. Meskipun segala pencapaianku ga semulus dan seuwow Bang Umar, tapi Ummii juga Abii ga pernah membanding-bandingkan aku dengan Bang Umar. Masih inget dulu ekspresi bangganya Ummii ketika aku juara satu lomba pidato bahasa Arab walau hanya tingkat Pesantren. Masih inget juga pas Abi naik panggung ketika namaku dipanggil dan bilang "terima kasih ya Alfa" walau Tahfidz ku ga selesai 30 juz.

Masih inget juga betapa bahagianya dan bersyukurnya mereka berdua ketika aku dinyatakan lolos di Ilmu Komunikasi di salah satu universitas negeri - yang sebenarnya ga aku impikan - di jalur seleksi paling akhir. Ah terima kasih Abii Ummii, jadi ga tega mau malas-malasan gini. 

Tapi..

Aku yakin rasa ga tega ini bakal hilang lagi besok. Ahahahaha.

Alfa oh Alfa. Ga paham lagi sama lu, Fa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alpa Alfa - Part 5

          Huda           The message was successfully sent at 17.25 Aku segera menghubungi Huda ketika teringat dengan perkataan Naa bahwa ia sering bertanya dengan Huda. Aduh, emang ya apapun yang berkaitan dengan Naa langsung gercepnya minta ampun, lain dengan yang namanya skripsi.           Hai, Huda           The message was successfully sent at 18.23 Setelah sholat dan ngaji, tetap aja pesanku belum direspond oleh si Huda. Yaa, emang pesannya masih centang satu abu-abu. Kemana si dia. Ngilang di saat yang tidak tepat.           Huda           The message was successfully sent at 18.58 Masih aja centang satu abu-abu.           Woi      ...

Alpa Alfa - Part 4

Siang ini aku sudah melakukan tradisiku sejak kuliah di sini. Apa lagi kalau bukan nongkrong di "Pojok Baca" sambil khusyuk menatap layar smartphone dan jempol beraksi. Engga. Jangan kira niatku ke kampus cuma ini ya. Ya meskipun biasanya memang itu, tapi hari ini beda. Aku baru saja konsultasi skripsiku. Berharap agar BAB I akan berubah menjadi BAB II, namun ternyata it need more time. Ga apa. Lu udah paling hebat, Fa! Semangat.. semangat. Masih muda kok, Fa! Nah sebagai hadiah untuk diriku sendiri yang telah menyelesaikan BAB I walaupun masih harus revisi, ya ini. Main game . Selamat menikmati, Fa! Kalian juga gitu ya, selalu beri hadiah untuk dirimu sendiri setelah menyelesaikan sesuatu yang kau anggap susahnya minta ampun. Your self also need a appreciation, so appreciate your self. Setengah jam aku bermain. Aku pun mengalihkan pandangan ke sekelilingku. Gila. Emang aku yang paling istiqomah di tempat ini. Lihat saja, seluruh bilik kosong, kecuali bilikku. Emang kamu...