Langsung ke konten utama

Alpa Alfa - Part 5


          Huda
          The message was successfully sent at 17.25

Aku segera menghubungi Huda ketika teringat dengan perkataan Naa bahwa ia sering bertanya dengan Huda. Aduh, emang ya apapun yang berkaitan dengan Naa langsung gercepnya minta ampun, lain dengan yang namanya skripsi.

          Hai, Huda
          The message was successfully sent at 18.23

Setelah sholat dan ngaji, tetap aja pesanku belum direspond oleh si Huda. Yaa, emang pesannya masih centang satu abu-abu. Kemana si dia. Ngilang di saat yang tidak tepat.

          Huda
          The message was successfully sent at 18.58

Masih aja centang satu abu-abu.

          Woi
          The message was successfully sent at 19.24

          Assalamu'alaikum, Akhii Huda
          The message was successfully sent at 20.05

          Huda
          The message was successfully sent at 21.35

          Yaa Allaah ga diread
          The message was successfully sent at 21.35

          Oh gini rasanya liat ga diread sama temen sendiri
          The message was successfully sent at 21.36

          WOI SENAR LAYANGAN!!
          The message was successfully sent at 22.47

Emang si Huda bikin gwe gila.

---


Esoknya aku pergi ke perpustakaan pusat.  Ahahaha, kalau bukan tugas aku ga bakal mampir di perpustakaan. Perpustakaan pusat berada di samping gedung rektorat. Bangunan berlantai empat itu memang salah satu bangunan yang aku hindari. Bukan apa-apa, di perpustakaan banyak orang yang baca, banyak orang yang rajin, nah eksistensiku menjadi ancaman apabila ada di sana.

Tapi, hari ini aku terpaksa ke perpus. Mimpi burukku tadi malam membuatku takut. Masa' iya kertas bertuliskan BAB I menjadi monster yang mengejarku sambil berteriak "CEPAT REVISI AKU.. REVISI AKU.." Emang bener-bener ngeri. Yakin.

Aku segera antri mengambil kunci loker di loket pengambilan kunci loker. Emang perpustakaan pusat selalu rame gini ya? Beda sama perpustakaan fakultas yang aku rasa ga serame ini. Ya emang si, perpustakaan pusat lebih lengkap daripada perpustakaan fakultas. Tapi, selain banyak yang rajin, yang membuatku malas di perpustakaan pusat adalah susah nyari bukunya, saking lengkapnya. Ada di daftar buku, tertulis masih banyak stok, eh pas  udah nyampe di lantai dan rak yang tertera di keterangan buku di daftar tadi ga ada bukunya. Kan bikin sakit hati.

Setelah aku di depan loket, ku keluarkan KTM ku segera aku scan dan petugas memberikan kunci berkalung biru. Segera aku masuk ke ruang loker khusus putra.

Yap. Di perpustakaan pusat universitasku memang begini alurnya. Di perpustakaan ga boleh bawa tas apapun. Ku rasa, semua perpustakaan juga gitu ya? Termasuk juga perpustakaan daerahku. Di ruang loker terdapat ratusan loker. Dan kita mencari loker yang sesuai nomor di kunci yang diberikan oleh petugas tadi.

Di setiap loker pasti terdapat tas khusus untuk masuk ke perpustakaan. Berupa
tote bag warna biru untuk putra dan merah untuk putri sesuai dengan warna kalung kunci loker. Tote bag ini bertuliskan nama universitasku dan berguna untuk membawa barang-barang berharga yang tidak bisa ditinggalkan di loker, misalnya laptop ini.

Ambil tote bag biru. Ambil laptop. Masukkan tas gendongku. Masukkan laptop ke tote bag. Tutup loker. Kunci. Cuz ke pintu masuk perpus.

Lagi-lagi harus antri terlebih dahulu. Setiap yang masuk ke perpustakaan wajib men-scan KTM terlebih dahulu. Untuk yang diluar universitasku tetep juga bisa masuk kok. Bisa pakai kartu sakti jika sesama mahasiswa atau melakukan administrasi terlebih dahulu untuk umum. Gilaa. Kok gwe bisa paham banget ya sama alur di perpus.

Yaa meskipun aku bukan ahli perpus bukan anak perpus bukan mahasiswa pecinta perpus atau gelar lain yang berembel-embel perpus, tapi aku lulus User Education. Salah satu prosesi ketika masih menjadi mana. Yaa ampuun, bahasanya prosesi. Emang ini wedding apa? Ahahaha. Sertifikat User Education adalah salah satu syarat mengikuti sidang nanti. Iya, salah satu. Masih banyak sertifikat agar bisa ikut melaksanakan sidang. Ga ada satu sertifikat auto ga bakal wisuda. Hahah.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya aku bisa berhasil men-scan KTM ku dan langsung masuk. Pertama aku harus mencari buku yang akan kita cari di perpustakaan ini. Ada terdapat belasan komputer di setiap lantai untuk mengakses daftar buku yang ada di sini. Sebenarnya bisa juga sih pakai smartphone, langsung aja akses web perpustakaan.

Selepas mencari keterangan buku di daftar buku, ingat-ingat informasi judulnya apa, lantai berapa, nomor rak berapa, nomor buku berapa, dan inisial pengarangnya apa. Emang ketika saat saat ini  long memory card yang kita miliki dituntut ga eror, ahahaha. Bisa ditulis kok, atau di foto juga boleh. Santai.

Aku pun berjalan menuju lantai tiga. Sesuai dengan keterangan buku di daftar buku tadi, setelah kakiku menapak di lantai empat aku segera ke bagian barat perpustakaan menuju rak yang bertuliskan angka "100".

"Etika moral. Etika moral," kataku sambil memilah-milah deretan buku di rak yang bertuliskan angka "100".

"Nah ini." Akhirnya aku menemukan deretan buku yang ku pilih. Aku kemudian segera menyusuri deretan buku itu hingga..

"Eh." Aku menyenggol seseorang.

"Astaghfirullaah. Maaf," ucap seseorang dengan suara perempuan yang familiar di telingaku. Aku pun menoleh ke arah si empu suara itu.

Aku membulatkan mata, "Naa?"

"Kak Alfa?"

Aku begitu kaget. Tak ku sangka di perpustakaan ini bertemu dengan senyuman indah itu. Eh. Maksudku Naa. Sepupunya Humairah.

"Naa cari buku?" tanyaku basa basi. Ya iyalah, kalau bukan buku masa' iya di perpustakaan cari obat. Ahahahaha.

Naa hanya mengangguk pelan. Senyumnya masih terpasang manis di wajahnya.

Aku membalasnya dengan anggukan kecil dan juga tersenyum. Kemudian mencoba fokus mencari buku di deretan rak itu. Begitu pun Naa.

Hening. Ga tau topik apa yang akan kujadikan bahan pembicaraan dengan Naa. Padahal rasanya pengen banget ngobrol gitu dengan Naa. Hah. Kenapa jadi blank gini si.

Aku akhirnya mengambil buku random dan duduk di bangku terdekat dari rak 100 itu. Aku membuka lembaran buku, seolah mencari suatu jawaban akan suatu hal. Memasang mimik paling serius agar terlihat memang sedang mencari suatu jawaban tentang sesuatu itu. Tapi ekor mataku tidak mau diajak kerja sama untuk acting saat itu. Ekor mataku malah diam-diam memperhatikan dia, Naa.

Hijab berwarna cream susu dan gamis hijau army. Ditambah senyum dari bibir yang semburat merah. Gila. Emang manis bener tu anak. Astaghfirullaah, Alfa!

Tiba-tiba Naa berjalan menuju tempatku. Aku pun pura-pura kembali fokus pada buku. Pura-pura membalikkan halaman buku. Jangan tanya isi bukunya apa. Judulnya apa aja ga aku baca tadi. Yang terpenting masih dalam lingkungan etika moral.

"Kak, aku boleh duduk di sini kan?" Naa akhirnya membuka suara.

Aku terhenyak. Tanpa kau izin, pasti bakal dipersilahkan Naa. Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

"Kak Alfa lagi nyari referensi buat skripsian ya kak?"

"Iya, Naa," jawabku rada berbohong. Tadinya niat aku perpustakaan ingin mencari referensi. Tapi setelah melihat Naa, niatku berubah. Di sini aku hanya ingin menikmati  senyuman Naa.

"Eh Naa." Giliran aku yang memulai berbicara.

"Iya kak?" Naa mengangkat kepalanya karena tadinya menunduk, menghadap buku yang ia ambil.

"Aku kemarin pernah follow kamu loh, kok ga di follback?" Astagaa Alfa. Kamu bahas apaan sih. Ga jelas. Sumpah.

Naa sedikit kaget. Kemudian tertawa kecil, "maaf ya Kak. Naa jarang buka instagram, hehe."

"Oh. Iya ga papa. Ga terlalu penting juga, hehe," timpalku. Berusaha memperbaiki perkataan ku sebelumnya.

"Oke, kak. Coba aku cek dulu deh," tungkasnya sambil mengambil smartphone-nya di tote bag warna merah yang juga bertuliskan nama universitasku, persis yang aku bawa. Ya iyalah, Bambang. Kan emang peraturannya gitu. "Udah ya Kak. Udah aku follback juga."

"Kalau aku DM juga, boleh Naa?"

Astaghfirullaah, Alfa. Aku benar-benar merutuki perkataan ku tadi, apalagi melihat Naa memasang muka kagetnya. MULUTMU MEMANG PERLU DIHUKUM DEH FA!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alpa Alfa - Part 2

Pertanyaan horor apa yang pernah disodorkan pada kalian? Kalau aku.. "Gimana skripsi lu Fa?" tanya Huda, temen kuliah sejak pertama kali OSPEK. "Elah, lu malah bahas skripsi. Tersinggung nih gwe," jawabku sambil membuka aplikasi Instagram. Kemudian aku ketik di kolom pencarian, @anasya_. Iya, akun si Naa, sepupu Humairah yang aku temuin dua hari yang lalu. Masa' iya dia satu prodi sama aku. Kenapa selama ini aku ga ikut kegiatan apapun di prodiku si.. tapi, hah. Kenapa aku baru kenal dia kemarin, coba. Eh bentar. Di bio akunnya emang ga ada sih embel-embel kalau dia mahasiswa ilkom kek aku, di postingannya juga ga ada foto yang menandakan kalau dia anak ilkom. Tapi... "Huda!" Teriakku. "Paan sih lu, tadi aku tanya kamu mau ikut muncak eh diem aja, mantengin tu hape. Eh giliran aku diem lu malah teriak manggil nama gwe," ocehnya. "Lu ngapain ngikutin akunnya si Naa?!" Tanyaku setelah aku melihat di bawah bio akun @anasya_ tadi te...

Alpa Alfa - Part 4

Siang ini aku sudah melakukan tradisiku sejak kuliah di sini. Apa lagi kalau bukan nongkrong di "Pojok Baca" sambil khusyuk menatap layar smartphone dan jempol beraksi. Engga. Jangan kira niatku ke kampus cuma ini ya. Ya meskipun biasanya memang itu, tapi hari ini beda. Aku baru saja konsultasi skripsiku. Berharap agar BAB I akan berubah menjadi BAB II, namun ternyata it need more time. Ga apa. Lu udah paling hebat, Fa! Semangat.. semangat. Masih muda kok, Fa! Nah sebagai hadiah untuk diriku sendiri yang telah menyelesaikan BAB I walaupun masih harus revisi, ya ini. Main game . Selamat menikmati, Fa! Kalian juga gitu ya, selalu beri hadiah untuk dirimu sendiri setelah menyelesaikan sesuatu yang kau anggap susahnya minta ampun. Your self also need a appreciation, so appreciate your self. Setengah jam aku bermain. Aku pun mengalihkan pandangan ke sekelilingku. Gila. Emang aku yang paling istiqomah di tempat ini. Lihat saja, seluruh bilik kosong, kecuali bilikku. Emang kamu...