Langsung ke konten utama

Alpa Alfa - Part 4


Siang ini aku sudah melakukan tradisiku sejak kuliah di sini. Apa lagi kalau bukan nongkrong di "Pojok Baca" sambil khusyuk menatap layar smartphone dan jempol beraksi. Engga. Jangan kira niatku ke kampus cuma ini ya. Ya meskipun biasanya memang itu, tapi hari ini beda. Aku baru saja konsultasi skripsiku. Berharap agar BAB I akan berubah menjadi BAB II, namun ternyata it need more time. Ga apa. Lu udah paling hebat, Fa! Semangat.. semangat. Masih muda kok, Fa!

Nah sebagai hadiah untuk diriku sendiri yang telah menyelesaikan BAB I walaupun masih harus revisi, ya ini. Main game. Selamat menikmati, Fa! Kalian juga gitu ya, selalu beri hadiah untuk dirimu sendiri setelah menyelesaikan sesuatu yang kau anggap susahnya minta ampun. Your self also need a appreciation, so appreciate your self.

Setengah jam aku bermain. Aku pun mengalihkan pandangan ke sekelilingku. Gila. Emang aku yang paling istiqomah di tempat ini. Lihat saja, seluruh bilik kosong, kecuali bilikku. Emang kamu sangat berbakat, Fa.

Eh..

Aku melihat sesosok perempuan dengan jilbab abu-abunya. Sambil membawa buku dan menggendong tas ransel dia turun dari lantai tiga. Memang "Pojok Baca" ini sangat strategis. Dekat dengan ruang sidang dekat juga dengan tangga dan lift.

Eh tapi.. bukan sesosok dia saja. Dia sedang berbicara dengan pasmina motif bunga berwarna hitam, blouse hitam, dan celana jeans. Dan aku juga mengenal perempuan ber-pasmina itu, anak IKS yang kemarin satu kelompok KKN denganku. Yap. Kalian benar. Sepasang saudara sepupu sedang menuruni tangga. Tapi kenapa mataku lebih fokus ke Naa saja ya?

"Naa!" panggilku tanpa malu. Ya, kenapa harus malu? Di sini kan kosong melompong.

Naa menoleh ke arahku dan.. tersenyum. Allaahu akbar, nikmat-Mu yang mana yang akan aku dustakan? Kakak sepupunya juga menoleh ke arahku. Dia juga tersenyum. Tapi kalah manis dengan si Naa. Ahahaha.
Aku segera berlari ke arah mereka. Mereka berhenti di ujung tangga.

"Ngapain kamu ke kampus, Rah?" tanyaku ke Humairah. Lagian dia kan juga udah semester tinggi. Beban sks pasti juga udah selesai.

"Memangnya kenapa aku di sini, ngga boleh?" balas Humairah.

"Ya.. boleh aja sih. Ya udah deh ga jadi tanya." Humairah ga tau apa kalau aku cuma basa-basi. Kenapa ga diladeni aja dulu.

"Hahaha. Alfa ngambekan ih. Aku masih ada tiga praktikum terakhir. Jadi, ya harus bolak-balik ke kampus untuk mengurusi praktikumku itu," jelas Humairah. Perempuan sampingnya hanya diam menyimak. Senyumnya juga ga luntur-luntur. Pengen nyubit pipinya ih.

"What? Masih praktikum? Ternyata prodi yang paling santai punyaku ya.. habis KKN langsung skripsian." Meskipun fokusku ke Naa, tapi aku tetep paham apa yang dikatakan Humairah yaa agar bisa mengulur waktu untuk melihat wajah Naa.

"Ahahahaha.. gitu aja bangga?" tanya Humairah memecah kefokusanku melihat senyumannya Naa. Apa sih. Lu ngajak perang Rah?

"Dah lah, males sama Humairah. Btw, kalian mau kemana?"

"Mau makan," jawab Humairah singkat.

"Boleh ikutan dong..," ucapku walau tadi udah makan siang sih di rumah. Tapi ga papa. Demi Naa.

Humairah menoleh ke arah Naa. Naa mengangguk pelan dan masih tersenyum. Nah ini adalah contoh percakapan menggunakan bahasa telepati dan sorotan mata. Boleh kalian coba di rumah masing-masing.

Akhirnya kami bertiga pun menuju kantin fakultas. Aku berjalan di belakang mereka berdua. Tanpa izin untuk suara, tanpa izin untuk bercerita. Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan. Aku mencoba mendengarkan tetapi tetap saja tidak paham. Ahahaha, tidak usah heran. Di kelas pun begitu kok. Aku sudah mencoba mendengarkan dosen tetapi tetap saja tidak paham. Aku lebih suka dan lebih paham ketika aku langsung melihat bagaimana prosesnya, bukan mendengar atau membaca bagaimana langkahnya. Emang setiap diri itu berbeda-beda. Ga bisa dipaksakan untuk dipukul rata.

Mereka berdua menuju stand seblak. Yang letaknya persis di sebelah kanan mie ayam Pak Bejo. Bagaimana rating seblak di kantin fakultasku? Menurutku ya, ya masih kalah sih sama mie ayamnya Pak Bejo. Karena selera orang berbeda-beda dan ga bisa dipaksakan untuk dipukul rata, silahkan kapan-kapan mampir ke kantin fakultasku dan cicipi semua makanan yang ada di sini.

Meskipun seblak di sini menurutku masih kalah sama mie ayamnya Pak Bejo, kalau mereka berdua udah mau memesan seblak itu.. aku mau apa kalau bukan mengikuti mereka? Yaa kali aku pesan mie ayam sendiri. Gengsiku tetep mengalahkan semuanya, Bro, Sis.

Di sini ada sekitar 16 menu seblak yang memiliki nama masing-masing. Aku sendiri memesan seblak sunda imut yang mana di keterangan menunya terdiri dari seblak, telur, jamur, makaroni, tahu bandung, dan siomay. Aku sendiri ga tau kenapa di beri nama sunda imut. Pas semangkok seblak sunda imut udah di depanku, kalau dilihat-lihat ga ada imut-imutnya.

Sedangkan Humairah memesan seblak cunihin. Aku sendiri ga tau apa itu cunihin. Intinya isinya ada seblak, telur, basreng, jamur, dan kerupuk. Sedangkan Naa yang murah senyum itu, dia memesan seblak cireng baong. Apa iya aku harus belajar bahasa Sunda agar bisa mengerti maksud nama-nama seblak di sini? Hahaha, kapan-kapan deh aku belajar, atau ada yang mau ngajarin aku belajar bahasa Sunda? Kalau ada bisa banget ketuk DM instagramku ya. Isi seblak yang di pesan Naa yaitu seblak, telur, jamur, kerupuk, cireng, dan siomay mini. Eh, ngapain juga aku ngepoin isi seblak yang di pesan mereka berdua.

"Heh Alfa!" Humairah tiba-tiba mengacaukan pikiranku yang sedang nikmat berpikir arti di balik nama-nama seblak di sini. Apa aku harus langsung tanya ke mas-mas tukang seblaknya langsung aja ya?

"Paan si," balasku sambil menyendok jamur yang ada di mangkuk seblakku.

"Level berapa seblakku?" tanya Humairah.

"Level 5. Kenapa? Mau nyobain?" jawabku sambil menyendok lagi. Kini aku berhasil menyendok tahu yang katanya khas Bandung.

"Gilaa. Kamu ternyata doyan pedas ya?"

"Jadi, kamu kira yang ngehabisin sambel pas kita KKN itu siapa kalau bukan aku?" Jadi flashback pas KKN kemarin. Banyak hal yang aku dapatkan dari pengalaman KKN kemarin. Termasuk extra sambal gratis yang bisa aku nikmatin setiap kali makan. Emang temen-temen sekelompok KKN ku ga doyan pedas.

"Oh iya lupa. Btw, udah mulai nyicil buat laporan KKN bagianmu kan?" tanya Humairah yang tiba-tiba saja menyenggol kata laporan KKN yang membuatku sedikit membulatkan mata. Yang tadinya aku mau menyendok jamur, malah salah menyendok makaroni.

"Tenang saja.. aman," jawabku. Ya meskipun aku masih sibuk dengan revisian BAB I ku kemarin. Tapi tenang aja, selama ini the power of kepepet masih manjur kok.

"Sip kalau begitu."

Kami hening kembali. Hanya seruputan seblak atau suara es yang mengenai permukaan dalam gelas akibat diudak yang terdengar di meja kami.

"Eh, Naa. Kamu adek kelasnya Huda ya?" Akhirnya aku punya topik juga untuk memulai percakapan dengan Naa.

"Iya Kak. Oh, Kak Alfa kenal sama Kak Huda?" balas Naa dengan senyum yang ga luntur-luntur.

"Iya, Huda temen Kakak," jawabku singkat dan aku menyesal kenapa hanya bisa menjawab singkat. Panjang dikit kek, biar Naa melihat keseriusanku dalam mengobrol. Aku ga mau segera berakhir.

"Karena dia juga anak ilkom, aku malah sering tanya-tanya sama dia, Kak?" Lontaran Naa membuatku lebih tenang. Ga berakhir kok ngobrolnya, tapi...

What? Sering tanya-tanya? Kenapa Huda ga bilang? Dasar Huda?

"Berarti dia punya nomor hapemu, Naa?" Semoga kamu bilang tidak, Naa.

"Ga tau juga ya Kak. Tapi kami satu grup WhatsApp. Aku seringnya tanya-tanya lewat grup. Hehe."

Ga tau aku harus bersyukur atau tidak. Tiba-tiba seblak yang tadinya level 5 berubah drastis jadi level 10. Pedes panas cuy.

"Huda temenmu yang itu Fa?" Humairah tiba-tiba ikut nimbrung.

"Yang mana?" tanyaku.

"Yang itu.."

"Yang mana? Temenku banyak, kali Rah."

"Dah lah. Ga jadi nanya."

Mon maap Rah, efek seblak level 10 deh kayaknya. Jadi sensitifan. Ahahaha, emang aku sensitifan anaknya.

"Oh ya Naa, kamu bisa tilawah ya?" tanyaku mengganti topik sebelumnya biar level seblaknya turun.

"Jangan ditanya lagi Fa, dia hampir masuk nasional lomba MTQ," jawab Humairah.

"Itu namanya bukan bisa lagi, malah udah pro itu mah. Tapi yang aku tanya tadi Naa. Bukan kamu Rah." Aku menimpali.

Naa cuma terkekeh pelan, Humairah cemberut mencoba menyendok lagi seblak di mangkuknya.

"Engga kok Kak. Yaa alhamdulillāh, tapi aku masih belajar kok." Naa menambahi tetap dengan senyumannya. Dia makhluk apaan sih?

"Lebih tepatnya mengajari deng Fa!" Humairah nimbrung kembali.

"Apaan sih Mba," balas Naa sambil menyenggol Humairah.

"Seriusan Naa bisa ngajarin tilawah?" tanyaku.

"Memangnya kenapa, Kak?" Naa kali ini menggunakan mimik penasaran. senyumnya hilang.

"Enggaaa..."

KALAU KAMU NGAJARIN KAKAK, MAU NGGAK? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alpa Alfa - Part 5

          Huda           The message was successfully sent at 17.25 Aku segera menghubungi Huda ketika teringat dengan perkataan Naa bahwa ia sering bertanya dengan Huda. Aduh, emang ya apapun yang berkaitan dengan Naa langsung gercepnya minta ampun, lain dengan yang namanya skripsi.           Hai, Huda           The message was successfully sent at 18.23 Setelah sholat dan ngaji, tetap aja pesanku belum direspond oleh si Huda. Yaa, emang pesannya masih centang satu abu-abu. Kemana si dia. Ngilang di saat yang tidak tepat.           Huda           The message was successfully sent at 18.58 Masih aja centang satu abu-abu.           Woi      ...

Alpa Alfa - Part 2

Pertanyaan horor apa yang pernah disodorkan pada kalian? Kalau aku.. "Gimana skripsi lu Fa?" tanya Huda, temen kuliah sejak pertama kali OSPEK. "Elah, lu malah bahas skripsi. Tersinggung nih gwe," jawabku sambil membuka aplikasi Instagram. Kemudian aku ketik di kolom pencarian, @anasya_. Iya, akun si Naa, sepupu Humairah yang aku temuin dua hari yang lalu. Masa' iya dia satu prodi sama aku. Kenapa selama ini aku ga ikut kegiatan apapun di prodiku si.. tapi, hah. Kenapa aku baru kenal dia kemarin, coba. Eh bentar. Di bio akunnya emang ga ada sih embel-embel kalau dia mahasiswa ilkom kek aku, di postingannya juga ga ada foto yang menandakan kalau dia anak ilkom. Tapi... "Huda!" Teriakku. "Paan sih lu, tadi aku tanya kamu mau ikut muncak eh diem aja, mantengin tu hape. Eh giliran aku diem lu malah teriak manggil nama gwe," ocehnya. "Lu ngapain ngikutin akunnya si Naa?!" Tanyaku setelah aku melihat di bawah bio akun @anasya_ tadi te...