Langsung ke konten utama

Alpa Alfa - Part 3


Pagi ini aku kembali ke kampus. Meskipun aku udah di semester akhir, udah kelar KKN, udah kelar juga semua beban sks dan nilai masih aman walau pas-pasan, tapi ga tau kenapa aku masih betah di kampus. Khususnya di fakultasku ini lantai dua lorong barat. Hahaha, ga usah aku beri tau kenapa alasannya kan?

For your information aja ni, lantai dua di fakultasku ini sama sekali tidak ada ruang kelas untuk kuliah. Isi di lantai dua ini selain "Pojok Baca" yang sangat-sangat spesial buat diri ini, ada loket-loket TU beserta ruangan para pegawai TU, perpustakaan lantai dua, lorong menuju gedung S2, kamar mandi, dan.. ruang sidang. 

Yap. Ruang sidang. Tepat di kiri "Pojok Baca" ini. Jadi, sering banget aku liat orang-orang yang nunggu temannya sidang di dalam terus setelah temannya keluar langsung pada bersorak ria. Langsung saja mereka foto-foto dengan berbagai aksesoris dari berbagai macam buket yang mereka bawa. Jadi, jika kalian tanya buket apa yang lagi tren sekarang? Nah kalian bertanya kepada orang yang tepat.

"Yaa Allaah, selamaat Tariii.."

"Congrat Tari.."

"Pecah telor ni di angkatan kita."

"Aman aman saja kan pengujinya tadi?"

"Eh, ini Tari. Kita bawa selempang.. pakai dulu sini."

"Gimana-gimana? Deg-degannya udah ilang?

WOI KALO DEG-DEGANNYA ILANG MATI LAH WOI, rancauku dalam hati. Semenjak dua hari kemarin aku diserang dengan kalimat "kapan skripsi kelar?" aku jadi ga suka liat orang yang di wisuda. Yaa, meskipun sebenarnya sebelum ini aku bukannya suka melihat orang-orang yang wisuda. Lebih tepatnya BODO AMAT. Tapi melihat mereka yang sekarang lagi ambil pose untuk foto..

"Alay banget sih kalian," ucapku dengan lirih. Suaraku ga bakal didengar oleh mereka yang sedang sibuk berfoto ria. Daripada gitu mending syukuran bawa nasi bungkus kek atau apa terus dibagiin sama temen-temen yang ada di fakultas kan lebih ajiiib.

Eh, ngapain lu jadi ngurusin mereka, Alfa?! Fokus ke game mu dong!?!

Aku di sini memang sendiri. Huda kurang suka dengan yang namanya game, dia lebih suka dengan hal-hal yang berbau traveling misalnya muncak ke gunung atau nge-camp di pinggir pantai gitu. Aku sering diajak dia muncak, nge-camp, atau kadang hanya pergi ke mana gitu. Tapi aku jarang menerimanya, ya sesekali sih aku mau.

Bagiku, surga dunia itu terletak di tempat yang memiliki sinyal bagus apalagi yang ada WiFi nya. Sedangkan tempat-tempat yang di sukai Huda kebayakan tidak menawarkan hal itu. Jangankan WiFi, sinyal di sana saja seringnya bertuliskan huruf E.

Untuk teman-teman selain Huda aku sendiri tidak begitu akrab. Terlebih kuliah itu temen di kelas seringnya ganti-ganti. Yaa kalau bukan karena War KRS-an, terus apa lagi? Perang KRS emang sering memecah pertemanan. Baru kenal, baru mulai akrab, eh udah beda jadwal lagi, jarang ketemu lagi. 

Ditambah mereka suka dengan yang namanya organisasi, jadi yaa jarang mereka main ke "Pojok Baca" ini. Seriusan deh kalau ada penghargaan bagi mahasiswa ilkom terajin duduk di "Pojok Baca", ya itu aku. Di sini, aku bagai marbot di "Pojok Baca".

"Mas, mas?" Salah seorang perempuan mendatangiku.

Aku menoleh, ada mbak-mbak yang membawa kamera. Dia mau foto bareng aku? Atau mau bikin konten YouTube bareng aku?

"Mas, bisa minta tolong?"

"Iya, gimana mba? Isi kontennya tentang apa?"

"Hah?" Dia kaget. 

"Mau bikin konten buat tugas, kan?" Aku inget banget pas masih di semester awal seringnya tugas berbentuk membuat konten YouTube dengan penilaian makin tinggi likes, comments, dan subscribers maka makin tinggi pula nilainya. Yaa, kalau bagiku itu kesempatan emas sih. Tugas ini sangat menyelamatkan IP ki. Yah, siapa si yang ngga mau nonton muka ku ini? Bahkan adek-adek ini pun mau munculkan mukaku di konten buat tugasnya.

"Hehehe, bukan mas. Ini, tolong fotoin kami."

Duar. Mereka belom selesai foto-foto?

---

Selepas kejadian foto bersama walau aku ga ikut foto, aku pun di sini. Di kantin. Lebih tepatnya di standnya Pak Bejo. Gileee, bahasanya stand kek di bazar-bazar gitu, wkwk. Mie ayam pangsit adalah menu andalan di warungnya Pak Bejo. Kantin fakultasku memang banyak yang jualan, malah menurutku kantin paling lengkap dari semua kantin di fakultas-fakultas, ya meskipun masih kalah dengan kantin terpadu yang letaknya di tengah-tengah kampus. Tapi aku tetep bangga dengan kantin fakultasku, surga dunia kedua setelah "Pojok Baca".

Di kantin fakultasku terjejer rapi bangku-bangku untuk tempat kami makan, di pinggir barat baru terjejer stand-stand penjual. Ada Soto Bu Marni, Pecel Mbokde Rasti, Nasi-nasian Mas Budi dan masih banyak lagi, termasuk Mie Ayam Pak Bejo yang menjadi mood booster setelah kejadian foto bersama tadi.

Aku sudah duduk di salah satu bangku. Di mejaku terdapat mie ayam pangsit beserta sambal, saos, dan kecapnya, es jeruk manis, dan sepiring extra pangsit goreng. Kuakui pangsitnya Pak Bejo emang juara, baik pangsit goreng ataupun pangsit rebusnya. Sama-sama endess. Kalau mau ada kriuk-kriuk crispy gimana gitu ya persen aja pangsit goreng, kalau mau ada sensasi kelembutan kulit pangsit dipadukan isian ayam yang full ya persen aja pangsit rebus. Yakin, kalian ga bakal nyesel.

"Alfa!" Seseorang menggangguku makan. Eh, kok suaranya aku kenal.

"Sudah kuduga lu di sini." Huda sudah nangkring di bangku depanku. Dia sudah membawa mie ayam bakso beserta semangkuk pangsit rebus dan es teh. Ga tau deh es tehnya manis atau engga, biasanya sih dia pesennya es teh manis. Padahal kalau mau semeja sama aku, seharusnya dia pesen es teh tawar aja. Kan manisnya bisa diambil dari melihat wajahku. Gilee, emang over confidence nih gwe.

"Ngapain lu ke kampus? Biasanya lu berpetualang." Ga tau deh, cita-citanya pengen jadi Bilang si Bocah Petualang atau mau jadi Panji Petualang.

"Pacar gwe tadi sidang."

"Pacar lu yang mana?" 

"Dih. Pacar gwe cuma satu ya. Jangan seolah-olah banyak. Ya emang sih, mantan gwe banyak. Tapi pacar gwe kan cuma si Nela, gwe orangnya setia Bro."

"Fuuh. Mantan numpuk aja bangga, prestasimu mana woi?"

"Hahahaha, sadar diri lah lu. Mantan kagak ada, pacar kagak ada, prestasi pun kagak ada. Ampun deh," ejeknya sambil menyeruput kuah mie ayamnya.

"Nah prestasi gwe ya itu, bisa menjaga diri dari yang namanya PACARAN."

"Anasya gimana Bro?"

Uhuk. Uhuk. Aku kaget, Oh iya. Naa.

"Ahahaha, kalau Naa bukan mau gwe pacaran, tapi mau gwe nikahin."

"Halaaah, kemarin aja bilangnya mau macarin. Mencla mencle lu!"

"Eh, tapi siapa pacar lu? Nela?" Pikiranku terbayang seorang perempuan. Rambutnya hitam, memiliki lesung pipi di kedua pipinya, dan bulu matanya lentik. Tapi sayang, terlihat sedikit tua karena make up tebalnya. Ya, itu Nela anak Pendidikan Fisika yang sudah dipacarin Huda selama kurang lebih setengah tahun.

"Iya. Nela. Ga mungkin lah lu lupa."

"Dia sidang?" Iya, aku memang sedang sensitif dengan kata 'sidang', tapi bukan itu yang membuatku terkaget-kaget seperti ini.

"Iya, tadi pagi. Terus dia langsung maen sama temannya," ucapnya dengan muka sedikit kesal. Aku melihat mukanya langsung terkekeh. Eh, wait. Sidang?

"Dia udah sidang? Gilak! Gwe kira dia masih semester empat masuk kelima..."

"Hahahaha, dia terlihat masih kinyis-kinyis kan?"

"Iya, tapi keliatan tua gara-gara make up nya. Eh ternyata emang udah tua."

"Woiii!!!!" Dia langsung menatapku. Apa iya cinta seperti itu? Aku senggol sedikit pasangannya langsung ngamuk. Aku diam. Seolah baik-baik saja. Menyeruput kuah manis gurih mie ayam andalan Pak Bejo.

"Dia blom tua juga, lebih tua an gwe malah. Atau mungkin sama lu lebih tua an lu beberapa bulan begitu," ucapnya santai setelah menyeruput kembali kuah mie ayam baksonya. Emang ajib bener mie ayamnya Pak Bejo, mampu menormalkan kembali macan yang ngamuk.

"Oh iya ya? Lu kan emang udah tua." Aku teringat bahwa si Huda memang gap year satu tahun setelah gagal masuk ke prodi Teknik Informasi. Lu emang jatahnya di ilkom Da, biar ketemu sama gwe, pemilik wajah tampan di kalangan anak ilkom, wahahaha.

"Gwe gap year cuma setahun aja ya woi, ga jauh-jauh sama lu."

"Tapi muka masih kinyis-kinyisan gwe ya.."

"Kenapa lu ngajak perang mulu sih?"

"Lu nya aja yang gampang emosian!" Asal kalian tau hanya dengan Huda saja aku memakai panggilan gwe-lu. Ga tau kenapa, menurutku hanya dengan dia aku cocok memakai panggilan itu.

Kami akhirnya diam sejenak. Meja depan gerobak mie ayam milik Pak Bejo tenang sejenak. Ingat, sejenak. Kami berdua segera menghabiskan mie ayam dan pangsit. Kami sama-sama terlihat khusyuk sekali, hingga perang mulut kembali dimulai dengan pertanyaan..

"Kira-kira pas wisudanya Nela, gwe bawain apa ya buat dia?"

WOI. GWE MASIH SENSITIF DENGAN KATA SIDANG NGAPAIN LU NGELUARIN KATA WISUDA, WAHAI JEPITAN BAJU!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alpa Alfa - Part 5

          Huda           The message was successfully sent at 17.25 Aku segera menghubungi Huda ketika teringat dengan perkataan Naa bahwa ia sering bertanya dengan Huda. Aduh, emang ya apapun yang berkaitan dengan Naa langsung gercepnya minta ampun, lain dengan yang namanya skripsi.           Hai, Huda           The message was successfully sent at 18.23 Setelah sholat dan ngaji, tetap aja pesanku belum direspond oleh si Huda. Yaa, emang pesannya masih centang satu abu-abu. Kemana si dia. Ngilang di saat yang tidak tepat.           Huda           The message was successfully sent at 18.58 Masih aja centang satu abu-abu.           Woi      ...

Alpa Alfa - Part 2

Pertanyaan horor apa yang pernah disodorkan pada kalian? Kalau aku.. "Gimana skripsi lu Fa?" tanya Huda, temen kuliah sejak pertama kali OSPEK. "Elah, lu malah bahas skripsi. Tersinggung nih gwe," jawabku sambil membuka aplikasi Instagram. Kemudian aku ketik di kolom pencarian, @anasya_. Iya, akun si Naa, sepupu Humairah yang aku temuin dua hari yang lalu. Masa' iya dia satu prodi sama aku. Kenapa selama ini aku ga ikut kegiatan apapun di prodiku si.. tapi, hah. Kenapa aku baru kenal dia kemarin, coba. Eh bentar. Di bio akunnya emang ga ada sih embel-embel kalau dia mahasiswa ilkom kek aku, di postingannya juga ga ada foto yang menandakan kalau dia anak ilkom. Tapi... "Huda!" Teriakku. "Paan sih lu, tadi aku tanya kamu mau ikut muncak eh diem aja, mantengin tu hape. Eh giliran aku diem lu malah teriak manggil nama gwe," ocehnya. "Lu ngapain ngikutin akunnya si Naa?!" Tanyaku setelah aku melihat di bawah bio akun @anasya_ tadi te...

Alpa Alfa - Part 4

Siang ini aku sudah melakukan tradisiku sejak kuliah di sini. Apa lagi kalau bukan nongkrong di "Pojok Baca" sambil khusyuk menatap layar smartphone dan jempol beraksi. Engga. Jangan kira niatku ke kampus cuma ini ya. Ya meskipun biasanya memang itu, tapi hari ini beda. Aku baru saja konsultasi skripsiku. Berharap agar BAB I akan berubah menjadi BAB II, namun ternyata it need more time. Ga apa. Lu udah paling hebat, Fa! Semangat.. semangat. Masih muda kok, Fa! Nah sebagai hadiah untuk diriku sendiri yang telah menyelesaikan BAB I walaupun masih harus revisi, ya ini. Main game . Selamat menikmati, Fa! Kalian juga gitu ya, selalu beri hadiah untuk dirimu sendiri setelah menyelesaikan sesuatu yang kau anggap susahnya minta ampun. Your self also need a appreciation, so appreciate your self. Setengah jam aku bermain. Aku pun mengalihkan pandangan ke sekelilingku. Gila. Emang aku yang paling istiqomah di tempat ini. Lihat saja, seluruh bilik kosong, kecuali bilikku. Emang kamu...